Bab 90: Jingni Adalah Makhluk Air
“Kalau dia tidak merasa tenang hanya menjadi Kepala Istana Xingle, maka biarkan saja dia tetap menjadi pembunuh bayaran,” kata Ying Zheng.
Menyampaikan pesan kepada orang luar, apalagi orang itu adalah Qianri, jelas telah menyentuh batas pantang bagi Ying Zheng. Sekalipun niatnya mungkin hanya karena setia pada Ibu Suri Zhao, tapi tindakannya benar-benar di luar batas toleransi Ying Zheng.
“Sebenarnya dia tidak ada niat buruk apa pun,” ujar Ibu Suri Zhao dengan ragu.
“Kalau dia sampai punya niat buruk, ke depannya bahkan tak layak lagi jadi pembunuh bayaran,” suara Ying Zheng terdengar dalam.
Melihat itu, Ibu Suri Zhao merasa hatinya sedikit tercekat, lalu ia tersenyum, “Zheng’er, jangan marah, hanya seorang pembunuh bayaran saja, tak layak untuk dipikirkan.”
Melihat senyum Ibu Suri Zhao yang sedikit berupaya untuk menyenangkan dirinya, Ying Zheng pun tahu sudah saatnya berhenti. Jika sampai membangkitkan sifat pemberontak Ibu Suri Zhao, sang Ibu Suri yang selamanya membawa jiwa muda itu, bisa-bisa hasilnya malah berbalik.
“Aku tidak sampai marah pada orang yang tidak penting. Hanya saja, di hadapan Ibu Suri, sekecil apa pun masalah tetaplah perkara besar yang tak boleh luput dari perhatianku. Kadang, lebih baik salah membunuh daripada salah melewatkan,” ujar Ying Zheng.
“Baiklah, aku mengerti. Tapi, Zheng’er, sekarang aku kehilangan Kepala Istana, bagaimana menurutmu?” Ibu Suri Zhao berwajah serius, seolah hendak menuntut jawaban.
“Jingni masih berada di sini, bukan? Biarkan dia yang bertanggung jawab atas urusan Kepala Istana Xingle,” jawab Ying Zheng.
“Zheng’er, tidakkah kau merasa ini kurang adil untuk Jingni?” Ibu Suri Zhao mengerutkan kening. “Bukankah dia telah melahirkan putri sulungmu?”
“Kalau orang lain, tentu aku tidak akan begini. Tapi Jingni pengecualian,” kata Ying Zheng.
“Kenapa begitu?” tanya Ibu Suri Zhao ingin tahu.
“Sebab dia tidak akan menolakku,” ujar Ying Zheng.
“Jadi, kau bisa sewenang-wenang padanya?” Ibu Suri Zhao hampir tertawa karena kesal, anaknya ini benar-benar tak berperasaan.
“Apa itu sewenang-wenang? Lagipula, meski dianggap begitu, Jingni tetap akan menyukainya,” kata Ying Zheng tenang.
“Baiklah, terserah padamu,” Ibu Suri Zhao menggelengkan kepala pasrah. Namun, jika memang begitu, aku harus lebih baik pada Jingni. Hutang yang dibuat anak, ibunya yang harus menanggung, pikir Ibu Suri Zhao dalam hati, dengan sedikit rasa bangga dan puas—pada akhirnya, Zheng’er tetap butuh aku untuk membereskan segalanya.
“Zheng’er, gulungan bambu ini, bagaimana kau ingin mengurusnya?” Ibu Suri Zhao mengalihkan pembicaraan ke pokok masalah semula.
“Tidak perlu Ibu Suri khawatir soal ini, aku akan biarkan Jingni yang menanganinya,” jawab Ying Zheng.
“Kalau kau sudah punya keputusan, aku tak ingin ikut campur,” kata Ibu Suri Zhao, memang urusan repot-repot bukanlah kesukaannya.
Saat itu, Jingni sudah hampir pulih sepenuhnya, atau sebenarnya sudah sejak lama. Tubuhnya memang luar biasa. Melihat Jingni yang penuh kasih memeluk putrinya sambil bersenandung lagu anak yang tak dikenal, bahkan Ying Zheng pun terhanyut.
Tak bisa disangkal, Jingni yang biasanya dingin memang membangkitkan hasrat menaklukkan dalam diri Ying Zheng. Tetapi, Jingni yang kini memancarkan keibuan justru jauh lebih memabukkan.
“Yang Mulia?” Setelah menidurkan bayi itu di ranjang, Jingni mendekati Ying Zheng.
“Kau tampak lebih gemuk,” kata Ying Zheng sambil melingkarkan lengannya di pinggang Jingni yang sudah ramping kembali.
“Bagian itu malah makin gemuk,” jawab Jingni bersandar manja di bahu Ying Zheng.
Tahun lalu, tinggi Jingni hampir sama dengan Ying Zheng, kini di hadapannya ia benar-benar berubah menjadi gadis kecil yang manja.
Wajah Ying Zheng sempat kaku, lalu ia berkata, “Kau jadi nakal, ya?”
“Itu cuma karena Yang Mulia menyukainya,” Jingni melihat keterkejutan di wajah Ying Zheng, hatinya sebagai wanita kecil begitu puas, memang sengaja ia lakukan.
“Jadi, biang keladinya ternyata aku,” suara Ying Zheng terasa berat, seolah sedikit kecewa.
“Bukankah Yang Mulia sudah tahu?” Jingni menjawab serius.
“Ya, aku tahu,” kata Ying Zheng.
“Yang Mulia, kau tampak sedang memikirkan sesuatu?” Setelah bercanda secukupnya, Jingni bertanya dengan lembut.
“Ada satu hal yang rumit, aku butuh bantuanmu,” ujar Ying Zheng.
“Apa Yang Mulia ingin membunuh seseorang?” tanya Jingni.
“Sekarang, meski ingin membunuh, bukan kau yang harus turun tangan,” kata Ying Zheng sambil merangkul Jingni dan merebahkan diri di atas dipan.
Jingni benar-benar seperti kucing kecil yang meringkuk di pelukan Ying Zheng, mendengarkan dengan tenang saat Ying Zheng menceritakan soal Dushu yang telah menyampaikan gulungan bambu pada orang luar.
“Apakah Yang Mulia merasa hati orang-orang di pihak Ibu Suri tidak tulus?” tanya Jingni setelah mendengarkan semuanya.
“Ibu Suri sangat penting, dan beliau…” Ying Zheng menunjuk kening Jingni, maksudnya jelas.
“Aku butuh seseorang yang benar-benar bisa kupercaya di sisi Ibu Suri, agar beliau tidak dimanfaatkan orang lain,” kata Ying Zheng.
“Orang itu aku?” Jingni bertanya.
“Benar, hanya kau yang bisa aku percaya sepenuhnya. Namun, kalau begitu, ada beberapa hal yang tak bisa kuberikan padamu,” kata Ying Zheng.
“Aku ini hanya seorang pembunuh,” Jingni tidak menanggapi langsung, suaranya terdengar aneh.
“Sebelumnya, keinginanku tidak banyak, hanya berharap bisa hidup. Sekarang aku sudah bisa hidup dengan tenang, aku tak punya harapan berlebih,” ujar Jingni.
“Lagipula, Yang Mulia sudah memberiku cukup banyak.” Sambil meletakkan dagunya di dada Ying Zheng, ia berkata, “Apa ada hadiah di dunia ini yang lebih baik daripada Yan’er?”
“Aku rela tinggal di Istana Xingle dan tidak akan pernah membiarkan orang luar memanfaatkan Ibu Suri,” kata Jingni.
“Tak perlu lama, hanya beberapa tahun saja,” janji Ying Zheng.
“Ya, aku tahu. Sebenarnya, meski lebih lama pun tak mengapa, asal Yang Mulia tidak melupakanku,” ujar Jingni.
“Nanti, orang-orang di sekitar Yang Mulia pasti akan sangat banyak. Sedangkan aku, bisa memiliki Yang Mulia selama setahun penuh di masa mudanya, itu adalah hal yang diidamkan banyak orang tapi tak bisa mereka dapatkan. Lagipula, seumur hidup kita, berapa banyak tahun yang benar-benar kita miliki?” Jingni menatap Ying Zheng penuh kelembutan.
“Apa lagi yang harus aku keluhkan?”
Mendengar bisikan Jingni, Ying Zheng seolah tersadar, bahwa wanita di hadapannya inilah sebenarnya sang penyihir sejati. Di hadapan Jingni, segala pesona wanita lain seperti tak berarti. Mereka hanya bisa mengalihkan pandangan, tapi Jingni mampu mengaburkan hati seorang pria, menenggelamkannya dalam kelembutan yang seperti air—dan air pun bisa membunuh.
Menatap mata Jingni yang jernih berkilauan, Ying Zheng ingin tahu, adakah bagian lain dari tubuh Jingni yang juga berkilauan seperti itu.
Dan untuk menemukan jawabnya, menebak saja tidak cukup. Hanya dengan mencarinya sendiri, ia bisa tahu. Maka Ying Zheng pun mencari jawabannya, telapak tangannya menelusuri lekuk tubuh Jingni hingga ke dasar kedalaman.
Ternyata memang ada air di sana.