Bab Lima Puluh Sembilan: Kota Malam Abadi
Pada malam ini, banyak orang seharusnya tetap tinggal di kota ini. Pada malam ini juga, banyak orang seharusnya meninggalkan kota ini.
Ye Qing duduk di dalam kereta kuda yang melaju meninggalkan Kota Lanyin, sementara Putri Kerajaan Os duduk di hadapannya, dengan penuh minat mengelus kucing putih di pangkuannya.
Karena itulah, setelah berpikir sejenak, Ye Qing memutuskan untuk tidak memberitahunya bahwa kucing itu adalah hewan peliharaan seorang Orang Suci.
Lagipula, Xiao Jiu sendiri juga jarang peduli. Bagi seekor kucing, bersikap anggun dan sopan, menjaga kebersihan, serta memiliki bulu yang nyaman disentuh sudah cukup untuk menjadi hewan peliharaan yang layak. Terlebih lagi, kucing hasil didikan Orang Suci ini memang termasuk yang paling unggul di antara sesamanya.
Demi berbagai pertimbangan keamanan, Ye Qing harus diprioritaskan untuk dievakuasi. Ao Xuehua pun tentu tak terkecuali, sebab dalam arti tertentu dia dan Xiao Jiu sama-sama merupakan maskot pembawa keberuntungan, hanya saja gadis pendekar ini cakarnya sedikit lebih tajam.
Bagaimanapun, dalam pertarungan selanjutnya, kekuatan mereka sendiri sudah tak akan banyak berarti. Hanya darah dan api kekaisaranlah yang menjadi penentu kekuatan sejati.
“Tak pernah ku sangka,” Ao Xuehua mengangkat alisnya, sang putri yang gagah berani ini akhirnya mendapat kesempatan berbicara kepada putri negeri tetangga di hadapannya, “Putri Kesembilan Lanye ternyata seperti ini.”
“Itu hanya ilusi,” jawab Xiao Jiu tenang. Setelah berlatih seni suara, ia kembali mendapatkan kemampuan berbicara, namun kebiasaan berbahasanya tak bisa langsung berubah begitu saja. Ketika kata-kata digantikan tulisan, sang penutur cenderung menyederhanakan isi pesannya, seperti halnya aksara yang terukir di papan bambu pasti akan singkat dan padat.
Xiao Jiu memang tak berniat menulis di papan bambu, tetapi kebiasaan itu tetap melekat: “Aku tahu, dalam arti tertentu aku cukup terkenal.”
“Dalam bayanganku, kau pasti putri yang angkuh, seseorang yang bisa membuat kekacauan di seluruh balai sidang kekaisaran, pantas untuk dikagumi,” Ao Xuehua tersenyum, “tapi memang, melihat langsung lebih baik dari seribu cerita.”
Karena peristiwa di Kota Lanyin untuk sementara telah berakhir, dan perkembangan saat ini sudah menjadi skenario terbaik yang mereka harapkan, akhirnya ia pun memaksakan diri untuk berbincang ringan.
Namun ketika Ao Xuehua membuka tirai sutra berhiaskan bunga berduri di kereta, melongok ke luar jendela menatap langit malam, ia tak kuasa menahan kerutan di dahinya, “Gelap sekali, padahal ini malam kelima belas bulan pertama.”
...
Di bawah langit malam yang kelam, tak terlihat satu pun bintang.
Lapisan demi lapisan kegelapan itu bagaikan awan yang bersembunyi, namun seandainya ada yang melukisnya dengan teknik tinta tumpah, menggoreskan gunung-gunung berasap dalam gulungan, mungkin pun tak akan berbeda.
Xingxi berdiri sendirian di panggung tinggi yang telah runtuh itu. Setelah perubahan besar ini, pusat kota telah sepenuhnya kosong dari manusia.
Ia mengenakan jubah panjang berwarna perak, berdiri di hadapan lampu teratai sembilan permata yang disegel oleh tak terhitung prisma. Ia mengerutkan kening, lalu mengangkat tangan.
Kerut di dahi menandakan ia tak menyukai sangkar burung transparan itu, dan mengangkat tangan artinya hendak menghancurkan belenggu buatan manusia tersebut.
Ketika ia mengangkat tangan, benang putih pun terkumpul di ujung jarinya lalu meluncur.
Itu sejatinya adalah bilah tajam yang bisa menebas segala sesuatu di dunia, namun saat menyentuh prisma-prisma itu, bilah itu lenyap tanpa suara.
Ia tetap tenang, namun tangannya sudah bersilangan di dada, cahaya putih pucat seperti bulan perlahan muncul dari sela-sela jemarinya.
...
Seluruh Kota Lanyin telah siaga perang total. Di atas tembok kota, lampu-lampu menyala terang, seluruh prajurit dikerahkan, setiap menara pengawas diisi para penjaga. Meski tinggal menunggu hingga tengah hari esok dan semuanya akan selesai, Ji Li tetap memilih tingkat kesiagaan tertinggi dalam menghadapi tantangan ini.
Pintu gerbang masih terbuka lebar, iring-iringan kendaraan evakuasi bagai naga hitam yang panjang, lebih banyak warga memilih tetap di rumah, menjaga api perapian tanpa berani terlelap. Tengah hari esok segalanya akan berakhir, namun tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi sebelum semuanya usai. Maka mereka lebih memilih menunggu, tak sanggup menenangkan ketakutan dengan tidur.
Ji Li berdiri di atas tembok, menunggu bersama angin dingin musim dingin. Tanpa sadar ia menoleh ke arah lampu teratai sembilan permata di tengah kota. Demi berbagai pertimbangan, semua orang telah dievakuasi dari sana, sehingga lampu teratai putih itu berdiri sendiri, terkurung dalam sangkar burung transparan.
Sebenarnya, tempat itu bukan lagi sesuatu yang perlu dipikirkan. Lampu teratai sembilan permata yang sepenuhnya di luar kendali itu bagai benda berbahaya yang siap meledak kapan saja. Namun, sebagai mantan pemiliknya, Ji Li tetap tak bisa menahan diri.
Justru karena ia sedang menatap ke arah sana, ia pun menyaksikan pemandangan yang tak pernah dibayangkannya seumur hidup.
Cahaya perak mengalir membanjiri bumi.
Ia melihat cahaya seterang air raksa perlahan mekar di sekitar lampu teratai, lalu dalam sekejap menyelimuti seluruh pusat kota.
Hati Ji Li langsung merasa ada bahaya besar, tanpa ragu ia melompat, tenaga dalamnya membentuk sayap ilusi, dan kali ini ia sama sekali tak menahan diri, meluncur menuju pusat kota.
Lampu teratai sembilan permata tak boleh celaka!
...
Bagaikan cahaya bulan yang menembus celah awan, sinarnya menyelimuti pusat kota.
Xingxi berdiri tenang di bawah cahaya bulan itu, tubuhnya dikelilingi sinar putih murni, kepalanya sedikit menengadah.
Mata emasnya sejernih dan sedingin bulan.
Tanpa menggunakan kekuatan wilayah, gadis ini sudah cukup untuk membunuh petarung tingkat langit. Maka, ketika ia benar-benar memasuki ranah wilayah itu, setiap serangan bisa dikendalikan hanya dengan kehendak hati.
Dia pun menatap sangkar burung itu dengan tenang.
Sangkar itu hancur berkeping-keping.
Pecahan kaca menghilang diterpa cahaya di matanya yang tenang, dan lampu teratai putih itu akhirnya kembali menampakkan diri di antara langit dan bumi.
“Sudah bisa dimulai.” Melihat penjara itu akhirnya hancur, pria di belakangnya menampakkan kegilaan di matanya, seolah ia telah menanti hari ini selama berabad-abad.
Goresan-goresan perak perlahan muncul dari bawah lampu teratai sembilan permata, guratan-guratan itu membelah dengan ketajaman luar biasa, dan di alun-alun yang luas itu, cahaya spiritual yang jernih mulai mengalir dan menjalar.
Gelombang besar kekuatan spiritual mengalir dari tubuh gadis berambut perak itu, lalu dituangkan ke dalam formasi raksasa di bawah kakinya.
Bagaikan sungai perak dari langit tercurah ke lautan luas.
Seiring aliran kekuatan spiritual bertambah deras, langit mulai bergolak, seolah angin badai menerpa, awan hitam seperti kain sutra pun mulai terbelah sedikit demi sedikit.
Dan dari celah-celah itu, cahaya perak bintang mulai turun.
“Sungguh mukjizat, sungguh Kota Malam Abadi.” Pria di belakangnya menatap pemandangan agung itu, menari-nari seperti anak kecil yang kehilangan akal.
Cahaya bintang yang berjatuhan mewarnai tanah dengan warna perak murni, namun perubahan aneh di langit masih berlangsung, sehingga lebih banyak awan tercabik, lebih banyak cahaya bintang jatuh.
Itulah api bintang yang paling murni, setiap jatuhnya menyemburkan percikan perak ke seluruh penjuru.
Maka, seluruh kota pun, di bawah gejolak langit, perlahan-lahan berubah menjadi lautan perak yang cemerlang oleh cahaya bintang yang turun dari angkasa.
...
Ji Li memandangi kilau perak yang jatuh di sekelilingnya, setiap serpihan yang menempel di kulitnya membentuk bercak perak yang menakutkan. Di sekelilingnya, seperti salju yang berjatuhan, cahaya perak itu hadir sebagai sinar, namun jatuh dengan wujud salju. Kilauan perak yang turun dari langit itu bagaikan salju abadi yang tiada habisnya.
Setiap serpihan perak yang jatuh di tubuhnya menimbulkan rasa tak nyaman yang sulit dijelaskan, hampir membuatnya muntah. Tapi ia tak punya pilihan lain. Seolah-olah tak ada cara untuk mencegah semuanya menempel di tubuh, meski hatinya diliputi firasat buruk, ia hanya bisa berlari lebih cepat menuju pusat kota.
Hanya di sana, ia mungkin bisa menemukan jawaban atas segalanya.
“Hai, Tuan Wali Kota.” Seseorang menghadangnya. Bunga-bunga salju perak menari di sekelilingnya, tapi tak satu pun jatuh menyentuh tubuhnya.
Pada musim semi tahun keempat Qingli, seseorang menatap Ji Li yang tampak agak berantakan, lalu tersenyum, “Aku ingin meminjam sesuatu darimu.”