Bab Seratus Lima Puluh Enam: Kompromi Sementara

Dinasti Song Selatan: Aku Mengendalikan Takdir Raja Kehilangan di Tengah Angin 3467kata 2026-04-01 09:12:13

Wajah Wu Lin menyiratkan rasa sepi. Semenjak Tuan Muda dan Nyonya meninggalkan ibu kota, kediaman ini terasa begitu sunyi. Sebenarnya Wu Lin ingin ikut pergi ke Jalur Tongchuanfu, tetapi Tuan Muda tidak menyetujuinya dan memintanya tetap tinggal di ibu kota untuk menjaga kediaman ini. Kini, di dalam kediaman besar itu hanya tersisa Wu Lin dan seorang pelayan lainnya.

Keberadaan sebuah kediaman di ibu kota adalah suatu keharusan, namun sebagai seorang kepala pelayan, Wu Lin sebenarnya tidak harus tinggal di ibu kota hanya untuk menjaganya. Urusan menjaga kediaman semacam ini bisa dikerjakan oleh pelayan mana pun. Oleh karena itu, sekembalinya Tuan Muda ke ibu kota kali ini, Wu Lin melayaninya dengan sangat teliti, sementara pikirannya terus-menerus ingin menyampaikan isi hatinya.

Tuan Muda sebentar lagi akan meninggalkan ibu kota, dan hati Wu Lin merasa sangat gelisah. Ia harus mengungkapkan niatnya, jika tidak, begitu Tuan Muda pergi meninggalkan ibu kota, entah kapan beliau akan kembali. Perlu diketahui bahwa Wu Lin telah berjaga seorang diri di kediaman ibu kota ini selama setahun penuh.

Ketika membawakan teh yang baru diseduh ke ruang kerja, Wu Lin tidak langsung pergi, melainkan berdiri dengan tenang di samping.

Sebelum Wu Lin sempat membuka mulut untuk berbicara, suara Tuan Muda sudah terdengar terlebih dahulu.

"Kepala pelayan, sudah lebih dari setahun berada di ibu kota, rasanya pasti berat, ya? Apakah engkau ingin meninggalkan ibu kota, atau kembali ke kampung halaman kita di Luzhou, atau pergi ke Kota Prefektur Luzhou di Sichuan?"

Wajah Wu Lin langsung memucat, tubuhnya bergetar sedikit saat ia bersuara.

"Hamba ingin senantiasa mengikuti di sisi Tuan Muda."

"Baiklah. Kediaman ini tidak begitu besar, kulihat meninggalkan satu orang untuk menjaga saja sudah cukup. Bersiap-siaplah, besok ikuti aku berangkat menuju Kota Prefektur Luzhou. Di sana untuk sementara Nyonya yang mengurus segala urusan rumah tangga, dan ada banyak hal yang kurang nyaman. Setelah engkau pergi ke sana, engkau bisa mengulurkan tangan membantu, sekaligus membuat Nyonya sedikit lebih santai."

"Hamba mematuhi perintah, hamba akan segera bersiap."

"Baiklah, sampaikan juga petunjuk tentang bagaimana cara menjaga urusan di sini dengan baik."

Setelah Wu Lin pergi, perhatian Wu Shao Gang kembali beralih kepada berkas-berkas di atas meja. Yang dibacanya tetaplah berkas-berkas yang dipersiapkan oleh Paman Keempat. Ketiga berkas ini telah dibacanya sebanyak tiga kali, dan setiap kali membacanya, Wu Shao Gang selalu mampu memetik pemahaman baru. Tentu saja, ada alasannya mengapa ia membaca berkas-berkas ini dengan begitu serius, cermat, dan berulang-ulang.

Suara langkah kaki yang agak tergesa-gesa terdengar dari luar ruang kerja.

Orang yang masuk tetaplah sang kepala pelayan, Wu Lin.

Di tangan Wu Lin terdapat sebuah surat undangan berwarna merah.

"Tuan Muda, seseorang baru saja mengantarkan undangan ini. Setelah hamba menerima undangan tersebut, pembawa pesan langsung pergi dengan cepat tanpa mengatakan apa pun, jadi hamba pun tidak tahu apa yang tertulis di dalam undangan ini."

Wu Shao Gang perlahan-lahan membuka undangan itu, dan matanya langsung berbinar cerah.

"Kepala pelayan, suruh Zheng Tongwu dan yang lainnya bersiap-siap. Aku akan segera keluar, sore ini tidak makan di rumah."

Begitu kereta kuda keluar dari Gerbang Fengyu, Wu Shao Gang turun. Zheng Tongwu yang berada di samping menyerahkan kendali kuda. Setelah naik ke atas pelana, Wu Shao Gang sedikit merapatkan pahanya ke perut kuda. Kuda jempana itu meringkik panjang dan melesat kencang menuju arah Gedung Fengle.

Zheng Tongwu dan para pengawal lainnya segera menaiki kuda mereka, mengikuti di belakang menuju Gedung Fengle.

Tampak luar Gedung Fengle terlihat sangat tenang, tidak banyak orang yang sedang makan. Namun, begitu naik ke lantai tiga, suasananya mendadak berubah. Ada beberapa orang yang berlalu-lalang di koridor, dan orang-orang ini bukanlah pelayan teh, pemilik kedai, maupun pesuruh rumah makan.

Wu Shao Gang hampir tidak memedulikan orang-orang tersebut dan terus berjalan lurus menuju ruang pribadi yang terletak paling ujung.

Melihat kedatangan Wu Shao Gang, orang-orang itu pun sedikit menggeser tubuh mereka ke kedua sisi koridor. Sementar itu, Zheng Tongwu dan para pengawal yang mengikuti di belakang Wu Shao Gang mendapatkan tatapan tajam dari orang-orang tersebut.

Zheng Tongwu tidak akan ikut masuk ke dalam ruang pribadi, karena itu adalah instruksi tegas dari Wu Shao Gang.

Di depan pintu ruang pribadi berdiri seorang pria berpakaian hitam. Tatapannya yang tajam menyapu sekujur tubuh Wu Shao Gang, lalu ia berbalik mendorong pintu ruang pribadi tersebut, dan menggeser posisinya untuk mempersilakan Wu Shao Gang masuk. Wu Shao Gang memberikan isyarat dengan matanya kepada Zheng Tongwu di sampingnya, lalu melangkah masuk ke dalam ruang pribadi.

Pintu ruang pribadi itu pun segera tertutup rapat.

Melihat sesosok punggung yang familiar berdiri di dekat jendela, Wu Shao Gang menangkupkan tangan memberi hormat dan berkata,

"Wakil Komisaris Urusan Militer Sichuan, Komandan Pertahanan Jalur Tongchuanfu, sekaligus Prefek Luzhou, menghadap Menteri Lu."

"Tuan Wu, baru berpisah beberapa hari saja, mengapa sudah begitu kaku? Tempat ini adalah Gedung Fengle, bukan di istana kekaisaran, tidak perlu terlalu formal. Santai saja."

"Tata krama bagi bawahan adalah suatu keharusan. Hamba sangat berterima kasih atas kebaikan yang begitu besar dari Tuan Menteri kepada hamba."

Lü Wende berbalik, sepasang matanya menatap lekat-lekat ke arah Wu Shao Gang dalam waktu yang cukup lama tanpa berpaling.

Menatap seseorang secara langsung seperti itu bukanlah hal yang sopan. Sayangnya, di hadapan Wu Shao Gang, Lü Wende memiliki kualifikasi untuk melakukan hal tersebut, sebab ia adalah Menteri Personalia istana kekaisaran yang membawahi banyak pejabat, termasuk pula Wu Shao Gang.

Sikap Wu Shao Gang yang tidak rendah hati namun juga tidak sombong, serta ketenangannya yang luar biasa, akhirnya membuat Lü Wende mengalihkan pandangannya.

"Tuan Wu, akhir-akhir ini aku memiliki banyak sekali renungan. Aku tidak dapat menahan diri untuk teringat pada kejadian di Huangzhou dahulu, ketika Anda dan saya bahu-membahu bersama-sama melawan bangsa Tartar Mongol. Jika dipikir-pikir sekarang, sungguh masa-masa yang menyenangkan. Setelah itu, Anda dan saya kembali bergandengan tangan melawan bangsa Tartar Mongol di Jalur Tongchuanfu, dan kita pun meraih kemenangan mutlak. Setelah kupikirkan baik-baik, semua ini adalah kehendak langit."

"Hamba senantiasa mengikuti di sisi Tuan Menteri dengan segenap jiwa raga, dan beruntung dapat mengalahkan bangsa Tartar Mongol. Jika dikatakan demikian, semua ini berkat kepemimpinan Tuan Menteri yang brilian, hamba hanyalah menjalankan tugas sesuai dengan pengaturan dan penataan dari Tuan Menteri."

"Baiklah, tidak usah membahas hal-hal semacam itu lagi. Ketika pertama kali melihatmu di masa lalu, aku sudah merasa bahwa engkau bukanlah orang biasa. Namun hanya dalam beberapa tahun, engkau telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa. Aku tahu bahwa engkau memiliki cita-cita yang luhur, dan aku sendiri telah menyaksikan kemampuanmu. Hari ini aku sengaja mengundangmu datang ke Gedung Fengle semata-mata untuk berkumpul, mari kita kesampingkan segala urusan di masa lalu untuk sementara waktu."

Lü Wende senantiasa memegang kendali inisiatif, yang menciptakan suatu atmosfir aneh di dalam ruang pribadi tersebut.

Otak Wu Shao Gang berputar dengan sangat cepat. Keesokan harinya ia akan meninggalkan ibu kota untuk kembali ke daerahnya. Harus diakui, tujuan kedatangannya ke ibu kota kali ini sudah tercapai. Namun entah mengapa, justru pada saat seperti ini, Lü Wende mengirimkan orang untuk mengantarkan undangan dan mengajaknya berkumpul di Gedung Fengle.

Wu Shao Gang sebenarnya tidak berniat menemui Lü Wende. Bagaimanapun juga, Lü Wende adalah dalang di balik persekongkolan yang menargetkan dirinya, dan persekongkolan kali ini bersifat mematikan. Seandainya rencana Lü Wende berhasil, Wu Shao Gang mungkin sudah tewas tanpa meninggalkan jenazah.

Percaturan di dalam birokrasi pemerintahan sangatlah kejam. Begitu kepentingan kedua belah pihak mengalami benturan hebat, maka tidak ada pihak yang akan menghentikan langkahnya sampai titik darah penghabisan. Kendati demikian, perselisihan antara Wu Shao Gang dan Lü Wende belum mencapai tingkat separah itu. Terlebih lagi, di belakang Wu Shao Gang berdiri Li Tingzhi, sehingga Lü Wende pun harus memperhitungkan hal tersebut.

Tentu saja, bukan berarti Wu Shao Gang berniat melepaskan Lü Wende begitu saja; hanya saja kekuatannya saat ini masih belum cukup besar, ia belum memiliki kapabilitas untuk menghadapi Lü Wende. Begitu kekuatannya telah mencukupi, Lü Wende pasti akan membayar harga atas memo pemakzulan tersebut.

Sikap Lü Wende hari ini terasa sangat aneh, seolah-olah ia bermaksud meredakan ketegangan.

Wu Shao Gang yang merupakan seorang pelintas waktu tentu tidak berpikiran naif dan tidak akan mudah disetir oleh Lü Wende.

"Hamba pada masa lalu mendapatkan apresiasi dari Tuan Menteri sehingga bisa menduduki posisi seperti hari ini. Kebaikan budi tersebut senantiasa hamba pahat dalam ingatan. Mengingat apa yang Tuan Menteri katakan mengenai Pertempuran Huangzhou dan Pertempuran Tongchuan, hamba meraih kemenangan di bawah komando Tuan Menteri. Hal-hal tersebut semakin membuat hamba tidak mungkin melupakannya. Hanya saja, Wakil Komisaris Propaganda Sichuan, Tuan Zhang Shijie, menumbuhkan rasa iri di dalam hatinya dan memicu persoalan semacam ini. Hamba merasa hal tersebut sangat tidak pantas, oleh karena itu hamba datang khusus ke ibu kota. Hamba sama sekali tidak memiliki niat lain, hamba hanya merasa hal-hal semacam ini sebaiknya tidak perlu terulang lagi di masa mendatang..."

Wajah Lü Wende senantiasa dihiasi senyuman. Begitu Wu Shao Gang selesai berbicara, ia segera menanggapinya.

"Apa yang dikatakan Tuan Wu sangat benar. Zhang Shijie orang itu memang sudah tidak tenang sejak berada di ibu kota. Dia pada dasarnya adalah seorang jenderal pelarian dari Dinasti Jin yang mendapatkan apresiasi dari kaisar dan istana kekaisaran, namun tidak pernah merasa puas dan berulang kali melakukan perbuatan semacam ini. Hal ini tentu saja tidak boleh dimaafkan begitu saja. Aku telah bersiap untuk melaporkannya kepada kaisar dan Dewan Militer, Zhang Shijie harus mendapatkan hukuman setimpal."

"Segalanya tunduk pada perintah dan pengaturan dari Tuan Menteri."

Wu Shao Gang sama sekali tidak berniat membela Zhang Shijie. Setelah mengalami masalah memo pemakzulan tersebut, kecil kemungkinan bagi Zhang Shijie untuk dapat bertahan di Sichuan. Mengenai apakah ia akan menghadapi musibah besar, kemungkinannya juga kecil, sebab dalang utama di balik memo pemakzulan itu adalah Lü Wende, sedangkan Zhang Shijie hanyalah orang yang dimanfaatkan. Terlebih lagi, jika Lü Wende benar-benar memperpanjang masalah ini hingga gaduh, Zhang Shijie mungkin akan membalas dengan membongkar seluruh kronologi kejadian yang sebenarnya. Pada saat itu, wajah Lü Wende akan tercoreng dan akan timbul perbincangan di kalangan istana.

Mengenai tiga tokoh termasyhur di akhir Dinasti Song tersebut, Wu Shao Gang sebenarnya merasa kecewa secara batin. Keinginan untuk merekrut mereka yang ada di masa lalu perlahan-lahan mulai memudar. Selain itu, kekuatan misterius dan besar pelindung kekuasaan kekaisaran yang dibayangkannya ternyata tidaklah sebesar itu. Dinasti Liao dan Dinasti Jin dulunya pernah bangkit dengan kekuatan yang jauh melampaui bangsa Mongol maupun Dinasti Song, serta mendapatkan banyak dukungan, namun setelah mereka runtuh, bukankah orang-orang berbakat di negara-negara tersebut tetap mengalir ke Dinasti Song dan bangsa Mongol?

Pada akhirnya, sebagian besar orang bertindak demi kepentingan pribadi mereka sendiri, sementara kepentingan negara diletakkan di urutan belakang.

Penguasa mana pun, hanya dengan berupaya menjadikan diri sendiri kuat, barulah dapat menarik cukup banyak orang berbakat berkumpul di sekitarnya. Jika tidak, hanya mengandalkan otoritas kekaisaran semata, orang-orang yang direkrut tidak lebih dari sekadar kaum oportunis yang mudah berbalik arah.

Selama jamuan makan dan minum berlangsung, wajah Lü Wende selalu dihiasi senyuman. Beberapa perkataan tidak perlu diucapkan secara terang-terangan; Wu Shao Gang juga seorang yang cerdas, dan banyak hal cukup dipahami lewat isyarat tersirat.

Sikap Wu Shao Gang pun tampak sangat tenang.

Pertarungan dan percaturan kali ini telah mengajarkan kepadanya sebuah prinsip: para kaum bangsawan di istana kekaisaran tidaklah sehebat yang dibayangkan. Seringkali, selama seseorang menunjukkan ketegasan dan keyakinan diri yang cukup, pihak lain akan tanpa sadar mundur perlahan. Dan ketika kekuatanmu telah cukup besar, para kaum bangsawan ini justru akan menjilat dan bahkan berbondong-bondong berkumpul di sekitarmu.

Sinyal yang diberikan oleh Lü Wende hari ini adalah penyelesaian secara damai atas permasalahan memo pemakzulan tersebut. Kedua belah pihak tidak boleh lagi mengungkit ataupun mempermasalahkannya, dan lembaran itu harus benar-benar dibalik.

Wu Shao Gang tentu saja menyetujuinya. Di dalam lubuk hatinya, lembaran itu untuk sementara waktu memang tidak akan dibalik, melainkan ditekan ke bawah.

Masa-masa setelah ini akan tampak sangat tenang, bahkan situasi Wu Shao Gang di Sichuan dan Jalur Tongchuanfu akan sedikit lebih baik. Namun, berapa lama ketenangan ini dapat bertahan masihlah sebuah teka-teki yang belum terjawab.

Bagaimanapun juga, Wu Shao Gang harus memanfaatkan periode ketenangan ini untuk berupaya mengembangkan kekuatannya sendiri.