122 Anak Yatim Piatu
Lin Yongqing berkata bahwa anak-anak itu tidak boleh sampai terlantar pendidikannya. Melanie tahu, itulah tujuan kedatangannya.
Melanie sedang memikirkan bagaimana harus menjawab, ketika Bian Feng berkata dari samping, “Paman Lin, aku melihat banyak anak datang ke rumahmu. Mengapa tidak membawa mereka kemari untuk bermain bersama kami?”
Si kembar tiga ikut menimpali, “Kami juga bisa mengajari mereka membaca.”
“Biarkan mereka tinggal di rumah kami, pasti akan lebih ramai.”
Melanie hanya bisa berkata, “Lihat saja, anak-anak lelaki di rumahku ini semuanya sulit diatur. Bawa saja anak-anak itu kemari untuk bermain.”
Lin Yongqing berkata, “Nyonya Mei, kau sungguh pandai mendidik anak. Hari ini aku datang untuk menitipkan anak-anak itu kepadamu. Orang dewasa yang mengasuh mereka harus pergi bekerja menginjak kain, sementara dua orang lainnya akan pergi ke galangan kapal Songjiang. Anak-anak tidak mungkin dibawa ke tempat-tempat seperti itu. Aku seorang lelaki, tidak pandai mengurus mereka. Jadi, aku ingin mereka makan dan tinggal di rumahmu. Setiap bulan aku akan membayar biaya hidup mereka.”
“Bagus, bagus!” seru Bian Feng. “Pasukan keamanan kita bisa menambah anggota lagi.”
Melanie berkata kepada Lin Yongqing, “Paman Lin, jangan membicarakan uang. Kita sudah seperti orang sendiri. Biarkan saja anak-anak itu tinggal di rumahku. Aku juga tidak akan mengeluarkan terlalu banyak biaya tambahan—memelihara satu anak sama saja dengan memelihara banyak anak. Hanya saja, di rumahku tidak ada anak yang dimanjakan. Terutama anak laki-laki, mereka harus dididik dengan tegas agar kelak menjadi orang berguna. Jika kau ingin menitipkan mereka di rumahku, perlakuan mereka akan sama dengan anggota pasukan keamanan. Jangan nanti kau merasa kasihan.”
Lin Yongqing menjawab, “Anak-anak pasukan keamanan di rumahmu itu sudah sangat baik. Aku pernah melihat beberapa dari mereka pada masa awal. Dalam dua tahun terakhir, mereka semua telah menjadi orang yang berguna. Jika bukan karena mereka adalah tetanggamu, sungguh aku tak akan percaya bahwa dahulu mereka hanyalah berandalan jalanan. Semangat dan keteguhan mereka bukan sesuatu yang dapat diajarkan keluarga biasa. Karena itu kukatakan, Nyonya Mei, kau memang pandai membina orang. Lagi pula, anak-anak di rumahmu itu satu per satu menjadi jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Menyerahkan anak-anak ini kepadamu, aku benar-benar merasa tenang.”
Memboyong begitu banyak anak sekaligus bukanlah perkara kecil. Semua perlu direncanakan dengan matang.
Melanie berkata, “Untuk sementara, mereka tetap tinggal di tempatmu. Setelah rumahku siap, barulah mereka pindah kemari. Selama beberapa hari ini, kau juga boleh membawa mereka datang bermain, supaya anak-anak dari kedua pihak saling mengenal. Dengan begitu, kelak mereka akan lebih mudah hidup bersama.”
“Baik, baik. Kita lakukan seperti yang kau katakan, Nyonya Mei.”
“Anak-anak itu bukan milikmu, jadi jangan mengambil keputusan terlalu cepat. Pulanglah dan bicarakan dulu dengan orang dewasa yang mengasuh mereka.”
“Bukankah karena sudah tak ada pilihan lain mereka datang memohon kepadamu? Dengan tempat sebaik ini, apa lagi yang perlu dibicarakan? Mereka pasti tidak akan keberatan.”
“Suruh mereka datang melihat-lihat hari ini,” kata Bian Feng.
Melanie memahami maksudnya. “Begini saja. Orang-orang dewasa yang mengasuh anak-anak itu tentu akan lebih percaya jika mendengar langsung darimu, tetapi tetap saja ada jarak di antara kalian. Lagipula mereka akan segera pergi. Biarkan mereka datang melihat keadaan di sini, agar hati mereka tenang, bukan?”
Lin Yongqing mempertimbangkan usulan Melanie.
Melanie melanjutkan, “Kita ini tetangga dekat, tidak perlu sungkan. Daripada menunggu hari yang dijanjikan, lebih baik hari ini saja. Akan kusuruh Bibi Lu menambah beras. Saat makan siang, bawalah mereka semua kemari. Qiao Zhi juga jangan ditinggalkan; kita makan bersama di ruang makan rumahku. Biarkan mereka merasakan makanan yang biasa disantap anak-anak. Setelah makan, mereka dapat melihat tempat tinggal dan ruang belajar mereka.”
Tentu saja itu usul yang sangat baik. Orang-orang yang mengantarkan anak-anak itu akan mengetahui seperti apa kehidupan mereka kelak dan dapat merasa tenang. Lin Yongqing pun tidak akan disalahkan, sebab ia memang telah mencarikan tempat yang baik bagi anak-anak tersebut.
Lin Yongqing adalah orang yang lugas. Ia segera menyetujuinya.
Melanie bertanya kepada Bian Feng, “Apakah kita benar-benar membutuhkan sebanyak ini orang?”
Bian Feng menjawab, “Aku sudah membicarakannya dengan Kakak dan yang lain. Kalau ingin melakukan perkara besar, kita harus lebih dahulu membina orang-orang berbakat.”
Si kembar tiga juga menyatakan persetujuan mereka.
Melanie hanya bisa terdiam. Cara berpikir lelaki dan perempuan benar-benar berbeda.
Lin Yongqing dan rombongannya tiba tepat saat makan siang.
Melanie bersama Bian Feng dan si kembar tiga menyambut mereka di aula depan. Semua orang dalam rombongan itu berpakaian sangat rapi. Tampaknya mereka memang telah mempersiapkan diri untuk kunjungan ini.
Lin Yongqing memperkenalkan kedua pihak. Keempat lelaki itu masing-masing bermarga Lu, Zhao, Wan, dan Hong.
Anak-anak pasukan keamanan berdiri berjajar rapi di luar aula. Kecuali Xiao Jia dan Xiao Yi yang masih menyisakan kepang kecil sepanjang beberapa jari, semua orang, termasuk Bian Feng, berkepala gundul dan mengenakan pakaian biru tua yang seragam, meskipun sudah agak usang.
Begitu para tamu memasuki halaman, seluruh anak itu serentak berdiri tegak.
“Selamat datang, kawan-kawan,” kata Bian Feng.
Tepuk tangan pun bergemuruh.
Para tamu jelas terkejut. Dari tujuh anak itu, seorang anak yang lebih besar melangkah maju, merangkapkan tangan di depan dada, lalu membalas salam mereka. Anak-anak lainnya segera menirukan gerakannya.
Dalam hati, Bian Feng bersorak. Anak-anak itu ternyata bukan berasal dari keluarga sembarangan.
Para tamu pun memberi nilai tinggi kepada anak-anak keluarga Hua. Lihat saja wibawa mereka.
Melanie berkata kepada anak-anak pasukan keamanan, “Anak-anak ini kelak akan hidup bersama kita. Mulai hari ini, kalian harus membantu mereka menyesuaikan diri. Jangan mengganggu atau menindas mereka. Mulai sekarang, kita semua adalah satu keluarga.”
Para anggota pasukan keamanan berseru serempak, “Kedatangan sahabat dari tempat jauh, bukankah patut disambut dengan sukacita?”
Ungkapan itu diambil Melanie dan yang lainnya dari Olimpiade Beijing tahun dua ribu delapan.
Wajah para tamu pun dipenuhi senyum.
Melanie berbicara dalam bahasa resmi kepada ketujuh anak itu, “Di sini, jangan menganggap diri kalian sebagai tamu. Sekarang berdirilah dalam barisan dan pergi ke ruang makan bersama mereka.”
Mungkin ajakan Melanie terlalu terus terang, atau mungkin mereka tidak memahami bahasa resminya. Beberapa anak tampak ragu-ragu.
Melihat keadaan itu, Lin Yongqing mengulanginya dalam dialek Min.
Anak yang menjadi pemimpin segera berdiri di sisi kiri barisan. Anak-anak lain mengikutinya. Meskipun mereka berdiri tegak, perbedaannya dengan anak-anak pasukan keamanan yang telah berlatih lebih dari setahun masih sangat jelas. Pakaian mereka tampak longgar dan berantakan, sementara kepang di kepala membuat penampilan mereka terasa janggal.
Mendengar aba-aba Bian Feng, bagian depan barisan berbelok ke kanan dengan gerakan serempak dan cekatan. Keempat belas anak itu bergerak seolah-olah merupakan satu orang.
Ketujuh anak baru itu pun tidak mau kalah. Mereka mengikuti barisan menuju ruang makan.
Melanie mengundang semua orang untuk ikut ke ruang makan. Lin Yongqing dan Qiao Zhi sudah pernah datang sebelumnya, sedangkan keempat orang lainnya tampak jelas dipenuhi rasa ingin tahu.
Hari itu Xiao Yi sedang bertugas. Ia berdiri di samping, mengawasi anak-anak mencuci tangan, kemudian mengambil nampan kayu berbentuk panjang dan berbaris di tempat pembagian makanan.
Bibi Lu dan Meixiang meletakkan hidangan yang telah dibagi ke dalam mangkuk-mangkuk di atas nampan kayu. Setiap orang mendapat semangkuk nasi, sepiring besar lauk, semangkuk sup, serta sumpit dan sendok. Menu hari itu adalah kepala singa masak kecap, tumis buncis, tumis sayuran hijau, dan sup tulang dengan kacang fava.
Xiao Yi mengantar para tamu kecil ke tempat duduk mereka, lalu berkata, “Kalau nasinya kurang, kalian boleh menambah sendiri.”
Anak yang menjadi pemimpin menerjemahkan ucapan Xiao Yi kepada anak-anak lainnya. Mereka buru-buru mengangguk.
Jamuan untuk orang-orang dewasa sama dengan hidangan anak-anak, hanya porsinya lebih banyak.
Semua orang makan dalam keheningan.
Setelah selesai, anak-anak meletakkan mangkuk dan sumpit di tempat yang telah ditentukan. Xiao Yi membantu membereskan ruang makan. Bian Feng menjelaskan kepada anak-anak baru mengenai tugas piket. Mereka mendengarkan dengan sangat saksama. Bahkan keempat orang dewasa itu pun menanyakan rincian tugas tersebut.
Seusai makan, Melanie membawa semua orang berkeliling melihat fasilitas tempat tinggal. Tanpa terkecuali, mereka sangat tertarik pada toilet siram dan merasa takjub melihat pencahayaan alami di rumah keluarga Hua. Tanaman berdaun hijau di sepanjang lorong juga membuat mereka merasa segar dan asing.
Namun, kamar tidur pasukan keamananlah yang paling mengejutkan mereka. Selimut-selimut yang dilipat rapi dan tersusun seragam membuat para tamu sampai tak mampu berkata-kata.
Mereka kemudian mengunjungi ruang belajar. Anak-anak yang baru datang segera tertarik pada tabel-tabel di dinding belakang. Mereka maju untuk mengamatinya dari dekat dan mengajukan beberapa pertanyaan. Tentu saja, penerjemahan tak dapat dihindari. Bian Feng dan yang lainnya menjelaskan semuanya satu per satu. Suasananya sangat bersahabat.
Setelah melihat semua itu, keempat orang dewasa berbicara beberapa patah kata kepada Lin Yongqing.
Lin Yongqing berkata kepada Melanie, “Nyonya Mei, keadaan di rumahmu benar-benar tak ada tandingannya. Para warga sekampungku ingin tahu, berapa biaya hidup yang pantas mereka bayarkan setiap bulan untuk anak-anak itu.”
“Paman Lin sedang bercanda. Tak seorang pun anggota pasukan keamanan di rumahku membayar biaya hidup. Anak-anak itu juga cukup diperlakukan sama seperti mereka.”
“Bagaimana kami bisa merasa tidak enak hati? Bagaimanapun, rumahmu akan menanggung tujuh orang tambahan,” kata lelaki bermarga Hong.
“Paman Lin tahu keadaan rumahku. Merawat beberapa anak lagi bukanlah perkara besar.”
Melanie sudah dicuci otaknya oleh Bian Feng dan si kembar tiga. Kini ia memahami pentingnya membina orang-orang berbakat.
Keempat lelaki itu masih berusaha membujuknya. Mereka berbicara bertumpang tindih dalam dialek Lingnan yang sangat kental. Ketika berbicara terlalu cepat, Melanie bahkan tak dapat memahami kata-kata mereka. Namun, maksud mereka tetap jelas: mereka ingin membayar sebagian biaya hidup.
Bagaimana mungkin Melanie membiarkan mereka membayar?
Mengingat ajaran si kembar tiga, Melanie berkata, “Para pendekar sekalian, jangan berdebat lagi. Niat baik kalian telah kuterima, dan kalian pun harus memahami niat baikku. Aku pernah mendengar kisah Chen Jinnan. Apa yang terjadi di Lingnan juga terjadi di Jiangnan. Demi keturunan para pejuang itu, kalian telah melakukan banyak hal. Sekarang, serahkan kelanjutannya kepadaku. Aku akan melakukan segala yang mampu kulakukan untuk membesarkan mereka hingga menjadi orang dewasa yang berguna.”
Mendengar ucapan Melanie, keempat lelaki itu sama-sama tertegun.
Dalam hati Melanie bertanya-tanya, Apakah ucapanku benar? Jangan-jangan aku salah menebak asal-usul mereka?
Lin Yongqing mengulangi ucapan Melanie dalam dialek Min.
Keempat lelaki itu mengangguk, lalu memberi salam dengan merangkapkan tangan di depan dada.
“Nyonya Mei benar-benar memiliki keberanian. Rupanya kami yang terlalu terikat pada aturan. Nyonya Mei, jika kelak ada sesuatu yang perlu dilakukan, jangan sungkan memerintah kami.”
Kemudian ia memanggil ketujuh anak itu mendekat.
“Beri salam kepada Nyonya Mei. Mulai hari ini, kalian harus mendengarkan perkataannya.”
Ketujuh anak lelaki itu serentak berlutut di hadapan Melanie. Melanie terkejut dan buru-buru meminta mereka berdiri.
Hari itu juga disepakati bahwa ketujuh anak lelaki tersebut akan tinggal bersama mereka.
Melanie berkata bahwa kamar-kamar mereka harus direnovasi, perabot serta meja dan kursi belajar harus dibuat, sehingga mereka baru dapat pindah sekitar sebulan kemudian. Namun, mulai esok pagi, mereka sudah boleh datang ke rumah keluarga Hua untuk berlatih dan belajar bersama pasukan keamanan hingga setelah makan malam, lalu kembali ke gereja. Setelah kamar-kamar selesai direnovasi, mereka akan pindah dan tinggal bersama.
Tentu saja tak seorang pun mengajukan keberatan.
Melanie membuatkan beberapa setel pakaian yang sama dengan pakaian pasukan keamanan, disesuaikan dengan ukuran tubuh masing-masing anak. Meixiang dan Bibi Lu juga membantu menyiapkan selimut, tikar, bantal, dan perlengkapan lainnya. Ia pun memanggil Li si Tukang Kayu untuk mengerjakan renovasi serta membuat perabot.
Anak-anak itu datang setiap pagi. Melanie meminta mereka sarapan di rumah keluarga Hua. Setelah itu, mereka mengikuti kegiatan pasukan keamanan. Pada siang hari, ketika tiba waktunya beristirahat, mereka tidur sejenak di dipan kayu di ruang utama. Sore harinya, mereka belajar membaca bersama pasukan keamanan.
Namun, baru beberapa hari berlalu, orang-orang keluarga Hua menyadari bahwa di antara ketujuh anak itu, ada dua orang yang tingkat pendidikannya sangat tinggi. Tulisan mereka bahkan lebih indah daripada tulisan semua anak lainnya.