141 Kepopuleran Kotak Uang
Pria itu mendengarkan perkataan Ye Weishi, tertegun sejenak, lalu berkata, "Tuan Hakim tidak akan pernah menjatuhkan hukuman bersalah kepadaku lagi. Semua orang melihat dan mendengar dengan jelas, jumlah uang di dalam kantong uang ini telah kusebutkan lebih dulu."
Ye Weishi berkata, "Memang benar kau menyebutkannya lebih dulu, tetapi kantong uang ini sungguh adalah milik keluargaku."
Pria itu berkata, "Kantong uang ini kubuat dari sisa kain baju ini, bagaimana bisa menjadi milik keluargamu?"
Ye Weishi berkata, "Kalau begitu coba katakan, siapa yang membuat baju dan kantong uangmu ini?"
Pria itu berkata, "Tentu saja ibuku yang membuat, makanya aku begitu menyayanginya."
Ye Weishi tersenyum dingin dan berkata, "Bagus sekali, semua orang telah mendengarkan perkataannya. Sekarang giliranku yang berkata, kantong uang ini kubuat dari sisa potongan kain bajuku ini."
Pria itu berkata dengan suara nyaring, "Anak muda, kau sungguh tidak masuk akal, setiap kalimat selalu meniru perkataan orang."
"Untuk apa aku menirumu? Aku berkata ini adalah barang milik keluargaku karena aku punya buktinya. Baru saja para tetangga sekalian juga telah mendengarkan, baju dan kantong uangnya dibuat oleh ibunya, sedangkan baju dan kantong uangku ini dibuat oleh bibiku. Keterampilan menjahit bibiku, jika ia mengaku nomor dua di Suzhou, tidak akan ada seorang pun yang berani mengaku nomor satu. Cukup amati jahitan pada kantong uang ini, lalu bandingkan dengan jahitan pada bajuku, siapa pun yang melihatnya akan langsung paham." Ye Weishi menerima kantong uang dari tangan Ibu Qiao, dan orang-orang mengamatinya dengan seksama. Jahitan sambung pada kain itu benar-benar bukan sesuatu yang bisa dijahit oleh orang sembarangan. Ketika melihat baju yang dikenakan oleh Ye Weishi, pola jahitan sambungnya pun sama persis dengan yang ada di kantong uang tersebut. Sulit bagi jahitan mesin untuk tidak terlihat sama. "Kemarilah, bandingkan dengan jahitan di bajumu."
Orang-orang melihat pengerjaan kantong uang tersebut, dan tanpa keraguan, opini publik berbalik ke arah sebaliknya.
Pria itu melihat situasi mulai memburuk, lalu memanfaatkan kekacauan untuk kabur secara diam-diam. Xiao Jia menyuruh Shi Aniu dan Yao Lan untuk mengikutinya secara senyap.
Ye Weishi masih sibuk menjelaskan trik-trik para penipu kepada orang-orang, "Beberapa hari yang lalu, di Jembatan Taiping, ada seseorang yang berdiri di atas jembatan melihat orang berjualan sayur. Uang tembaga milik penjual sayur itu ia hitung satu per satu dengan lancar di sampingnya. Begitu pasar tutup, ia pun mengatakan bahwa kantong uangnya tertinggal di atas perahu orang lain, lalu pergi menagihnya, bahkan menuduh orang itu menggelapkan uangnya. Coba kalian pikirkan, seorang penjual sayur, mana sempat menghitung uang tembaga, tentu saja mereka tidak tahu persis jumlah uang di dalam kantong mereka. Penipu itu berhasil melancarkan aksinya dengan cara seperti itu, sebaliknya orang yang difitnah justru harus menanggung nama buruk."
Di tengah kerumunan, seseorang menghela napas dan berkata, "Moral masyarakat semakin merosot, sekarang penipu semakin banyak."
"Untung saja ipar perempuan ini tadi dibantu oleh anak muda yang membantunya membela diri, kalau tidak ia pasti sudah dirugikan."
"Orang yang mengenyam pendidikan memang berbeda dari kita."
......
Setibanya di rumah, Ibu Qiao menceritakan kejadian tersebut dan menangis karena geram.
Melani sejak awal sudah memantau dari dermaga kecil rumahnya dan mengetahui duduk perkara sebenarnya.
Ia pun membujuk dan menenangkan wanita paruh baya itu sejenak. Melani memegang kantong uang tersebut dan melamun beberapa saat. Setelah sarapan pagi, ia pergi ke tempat Tukang Kayu Li.
Shi Aniu dan Yao Lan telah kembali dan membawa informasi mengenai pria tersebut. Pria itu dipanggil Kucing Malas, dan sekarang tinggal di Kuil Xiaozi. Xiao Jia mengatakan bahwa pria itu pasti memiliki cara-cara licik; setelah regu keamanan pergi, semua orang yang tinggal di Kuil Xiaozi diusir olehnya.
Keesokan harinya, Tukang Kayu Li mengantarkan sebuah kotak kayu. Kotak ini berbentuk balok tiga dimensi, tertutup rapat, dan di salah satu ujungnya terdapat papan geser. Di tengah ujung yang lain terdapat sebuah lubang pipih yang sedikit lebih lebar daripada diameter uang tembaga.
Melani mengambil kotak tersebut dan mendemonstrasikannya kepada Ibu Qiao, "Ditegakkan seperti ini, uang tembaga dimasukkan dari lubang di bagian atas ini. Setibanya di rumah, tarik papan di bagian bawah ini, maka uangnya akan keluar. Nanti biarkan Tuan Muda membantu menuliskan tulisan di bagian atasnya, lain kali tidak akan ada lagi orang yang berani mengatakan kantong uangnya tertinggal di perahu."
Ibu Qiao mempermainkan kotak uang kecil itu dan berkata, "Nyonya, Anda benar-benar memiliki hati yang cemerlang, pekerjaan apa pun bisa terpikirkan oleh Anda."
Keesokan harinya, Ibu Qiao kembali pergi berjualan sayur. Sering berjualan bersama membuat beberapa perempuan pendayung perahu itu saling mengenal. Mendengar bahwa ia kemarin sempat difitnah, mereka semua datang untuk mencari tahu duduk perkaranya. Ibu Qiao menceritakan kronologinya. Para penjual sayur ini memiliki pendirian yang berbeda dari para penonton sebelumnya; mereka kompak membela Ibu Qiao, yang tentu saja membuat hati Ibu Qiao merasa sangat puas.
Ketika hari sudah mulai terang dan sayuran para penjual hampir habis terjual, seseorang yang bermata jeli menemukan kotak uang kecil milik Ibu Qiao.
Ibu Qiao dengan bangga mengangkat kotak uangnya dan berkata, "Ini dipikirkan oleh Nyonya di rumah kami. Kalian lihat, di sini tertulis marga keluarga kami, dan sisi ini adalah nama kediaman kami." Orang-orang melihat sisi itu bertuliskan aksara yang dibaca 'Hua', sedangkan sisi satunya bertuliskan 'Buyiju'.
Tentu saja, tidak banyak dari mereka yang bisa membaca, terlebih lagi tulisan-tulisan itu menggunakan gaya aksara segel sehingga semakin sulit dikenali, namun manfaat dari kotak uang kecil ini sangat mudah dipahami oleh semua orang.
"Dengan begini, tidak perlu takut lagi orang-orang 'meninggalkan' kantong uang di atas perahu kita. Ibu Qiao, kotak uang kecil ini siapa yang membuat?"
"Dibuat oleh Tukang Kayu Li di Lorong Tongfang."
"Tukang Kayu Li ya, belum pernah dengar. Di mana rumahnya?"
Ibu Qiao juga tidak bisa menjelaskannya dengan pasti karena ia belum pernah kesana. Namun, seorang perempuan pendayung perahu penjual sayur berkata, "Tidak apa-apa, naik saja nanti tanyakan, pasti langsung tahu."
Beberapa hari kemudian, para perempuan pendayung perahu penjual sayur masing-masing membawa satu kotak uang kecil. Dari tempat lain tersiar kabar bahwa kantong uang seseorang tertinggal di perahu dan difitnah kehilangan seluruh isi kantongnya, dan lain sebagainya.
Para pendayung perahu di sini lantas mengangkat kotak uang kecil mereka sendiri, memperkenalkan keunggulannya, sekaligus mempromosikan Tukang Kayu Li.
Kotak uang kecil semacam ini tidak memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, para perajin lain yang melihatnya pun mampu membuat ulang. Tidak lama kemudian, benda itu menjadi tren di kalangan perempuan pendayung perahu penjual sayur di Suzhou.
Para biksu di kuil saat pergi membeli sayur melihat kotak uang kecil semacam itu. Ada yang cerdas dan mendapat inspirasi darinya, lalu membuatnya dalam ukuran yang lebih besar di kuil sesuai bentuk kotak uang kecil tersebut untuk dijadikan kotak amal, diletakkan di dekat pintu agar orang-orang bisa memasukkan uang ke dalamnya. Kuil-kuil lain pun ikut-ikutan meniru, dan untuk sesaat kotak amal kembali menjadi tren di dalam kuil-kuil.
Melani tidak tahu bahwa rancangannya telah memicu tren di Suzhou. Saat ini ia sedang berada di perkebunan, berbicara dengan petani tua. Petani tua itu melaporkan berbagai kondisi di perkebunan dan mengajak Melani berkeliling melihat-lihat. Melani melihat ia mengelola perkebunan dengan sangat tertata rapi, lalu memberikan banyak pujian.
Ia kemudian pergi meninjau bengkel kerja. Qin Lian telah membawa semua orang di bengkel besi pergi, hanya menyisakan Xu Chunlai yang biasanya membantu memperbaiki alat-alat pertanian dan merawat mesin tenun.
Namun, di dalam bengkel tenun suasananya justru sangat bersemangat. Para buruh perempuan sedang bekerja dengan giat.
Melihat Melani, sekelompok kaum hawa itu menyambutnya dengan antusias. Nyonya Zhao memperkenalkan kelompok tenun, dan saat ini rata-rata setiap hari menghasilkan enam gulung kain kasa, tiga gulung kain polos, dan tiga gulung kain kanvas.
Isteri Gu Li dengan bangga memberitahu Melani bahwa kelompok jahit mereka mampu menjahit lima belas buah kelambu setiap harinya.
Melani membuat perhitungan kasar; kain yang ditenun setiap hari sudah pasti tidak secepat pekerjaan menjahit.
Ia mencari Meixiang. Meixiang sekarang telah memiliki ruang kerjanya sendiri.
Meixiang berkata, "Sekarang, kecepatan menenun kain kasanva yang lambat. Oleh karena itu, kelompok jahit mau tidak mau bekerja setengah-setengah dan sering harus mengerjakan pekerjaan lain. Paman saya bilang, ada beberapa pedagang dari utara pergi ke Wuzhen membeli kelambu kain kasa dan secara khusus memesan yang berharga cap marga Hua. Dengan harga yang sama, orang-orang tentu tahu untuk memilih yang berkualitas. Oleh karena itu, Bos Chen sekarang lebih sedikit memasok kain kasa, dan lebih banyak memasok kelambu. Mesin tenun kita saat ini terlalu sedikit. Selain itu, kapas milik keluarga kita, jika kita tenun sendiri dalam setahun tidak akan habis, apakah Guru berniat menjualnya atau menyimpannya saja?"
Melani berkata, "Gudang-gudang di perkebunan semuanya sangat besar, simpan saja semuanya untuk sementara waktu, jangan dijual." Bian Feng dan rekan-rekannya masih membutuhkan kapas untuk membuat perlengkapan militer, nanti kalau dijual ke mana harus mencari begitu banyak kapas?
"Kakak Perguruan sebelum pergi telah merampungkan komponen-komponen mesin, hanya saja keburu tidak sempat menyambungnya. Xu Chunlai bilang dia tidak bisa menyambungnya dan harus menunggu Kakak Perguruan kembali. Kapan Kakak Perguruan dan yang lainnya bisa kembali?"
Hal ini pun Melani tidak dapat memastikannya secara pasti, tetapi untuk merakit mesin, ia mungkin bisa memberikan bimbingan.
Ia kembali pergi meninjau ruang mesin, dan benar saja, komponen-komponen yang telah dibuat semuanya ada di sana.
Meixiang mencarikan rancangan gambar mesin. Xu Chunlai dengan penuh antusias mengikuti di sampingnya, membantu Melani mengukur ukuran dimensi setiap komponen, serta menandai setiap jenis komponen berdasarkan gambar rancangan.
Melani berkata, "Sekarang kita bisa mulai merakitnya, tetapi jika hanya mengandalkan kita berdua saja tidak akan cukup. Minta kepada petani tua untuk mengirimkan dua orang lagi yang bertenaga kuat untuk dijadikan asisten; saya yang instruksikan, kamu yang kerjakan."
Xu Chunlai tampak sangat bersemangat dan bertanya, "Saya yang merakit? Apakah saya bisa?"
Petani tua tersebut benar-benar memanggil Li Daniu dan Zhang Xian datang untuk menjadi pekerja kasar. Kedua orang itu saat melihat Melani awalnya sempat merasa sedikit canggung dan salah tingkah.
Beberapa hari ini, Melani mengenakan sarung tangan, memakai pakaian kerja, dan tinggal di ruang mesin untuk bekerja.
Di waktu luangnya, ia mengobrol santai dengan petani tua dan Ibu Shen. Melani memberikan sebuah kotak uang kecil kepada Ibu Shen dan menceritakan kisah Ibu Qiao yang difitnah.
Ibu Shen menerima kotak uang kecil itu dan berkata, "Pantas saja, terakhir kali saya pergi berjualan sayur di Xukou, saya melihat ada beberapa perahu yang meletakkan kotak uang kecil. Saya tadinya mengira orang Suzhou memang suka ikut-ikutan tren, tidak disangka ternyata karena alasan ini. Sebagian orang ingin uang sampai gila, tetapi tidak mau menggunakan tenaga sendiri, malah memikirkan cara semacam ini, sungguh sebuah dosa."
Melani kemudian membahas perihal bunga dan tanaman di perkebunan.
Ibu Shen menjawab, "Semua ini dulunya ditentukan oleh Nona Duo, dia bahkan secara khusus menggambar rancangannya untuk kami, bagian mana ditanami bunga dan tanaman apa. Petani tua pada mulanya enggan, katanya mana sempat orang desa mengurus hal semacam itu. Sekarang setelah ditanam, lihatlah seluruh perkebunan ini suasananya menjadi sangat berbeda. Di samping jalan besar itu, siapa yang tidak suka berjalan-jalan lebih sering. Pohon-pohon di kedua sisinya itu belum tumbuh besar, beberapa tahun lagi jalan itu pasti akan menjadi rindang."
Petani tua menimpali, "Sekarang pun sudah pas, menjemur biji-bijian dan menjemur rumput tidak perlu mencari tempat lain lagi."
Melani tertawa kecil hingga berbunyi 'puchi'. Ibu Shen melirik tajam ke arah petani tua.
Melani berkata, "Nanti kalau ada waktu luang, pergilah membeli beberapa sutra ulat pohon kamper lagi, mumpung masa libur tani mari menenun beberapa jaring, dan bulan April tahun depan kita kembangbiakkan mutiara lagi."
Perkataan ini terdengar sangat menyenangkan di telinga petani tua, sehingga ia langsung mulai memperhitungkannya, "Di kebun teh, kacang kedelai sudah dipanen, apakah masih akan ditanami lagi?"
Melani membolak-balik buku catatan putih milik Meiduo lalu berkata, "Tanam, tanam satu musim lagi kacang kapri dan kacang polong. Di lahan kapas dan kebun buah juga jangan lupa menaburkan benih rumput pakan ternak. Musim dingin bisa dijadikan sayuran, bisa juga untuk pakan ternak, dan tahun depan bisa dibalik untuk dijadikan pupuk hijau."
Petani tua berkata, "Tentu saja. Tanaman jarak sudah waktunya dipanen. Barang itu mau diapakan?"
Melani berkata, "Rontokkan biji jaraknya, jemur sampai kering dan simpan dengan baik."
Petani tua berkata, "Batang jarak itu bisa dikelupas seratnya untuk ditenun menjadi karung goni atau pembungkus semacam itu."
Melani tentu saja tidak memiliki keberatan apa pun.
Setelah membahas pekerjaan tani, Melani berpesan kepada Ibu Shen agar membeli lebih banyak usus domba dan usus babi untuk membuat lebih banyak selongsong sosis.
Ibu Shen berkata, "Ini bagus, sosis yang Nyonya berikan tahun lalu sangat enak. Di perkebunan ada begitu banyak babi, lebih baik kita sisihkan sebagian untuk dibuat sosis. Nanti pada waktunya, satu kati sosis dijual seharga enam kati daging babi pun tetap akan ada orang yang mau membelinya."
Melani merasa jantungnya berdegup kencang mendengarnya. Semula ia berencana membuat lebih banyak sosis untuk dibawa oleh Bian Feng dan kawan-kawannya ke selatan. Sekarang, dengan perkataan Ibu Shen barusan, justru membuatnya merasa hal itu bisa dijadikan sebagai salah satu produk komersial.
Melani berniat menyisihkan sedikit uang perak untuk menyuruh Ibu Shen membeli usus, namun Ibu Shen sama sekali tidak mau menerimanya dan berkata, "Uang hasil penjualan sayur kita sudah berlimpah ruah, usus domba dan usus babi itu harganya berapa sih?"
Beberapa hari kemudian, mesin pertama selesai dirakit, dan setelah diuji coba ternyata berhasil dengan baik. Xu Chunlai kemudian mulai memasang mesin kedua secara mandiri.
Musim panen musim gugur di perkebunan pun resmi dimulai.